Senin, 26 Desember 2011

Ritual tradisional

. Senin, 26 Desember 2011

Ritual tradisional untuk mendekatkan diri dengan Sang Pencipta tetap dipertahankan sebagian warga Kabupaten Wajo hingga saat ini.Salah satu tradisi tersebut, yakni acara mattimpa bujung Gonrange.

Ritual ini digelar sebelum warga menabur benih di sawah pada setiap musim tanam. Ritual ini selain bertujuan mendekatkan warga dengan alam yang menjadi lingkungan tempat mereka hidup,juga sekaligus sebagai ekspresi rasa syukur kepada Tuhan. Secara harfiah,mattimpa bujungberarti menimba atau menguras air sumur.Mattimpa bujung dilakukan warga Lingkungan Sarasa Kelurahan Pammana, Kecamatan Pammana Kabupaten Wajo, setiap tahun.

Sumur yang airnya ditimba adalah Sumur Gonrange. Menurut salah seorang tokoh masyarakat di daerah ini,Sudirman,acara tersebut dilakukan sebagai wujud rasa syukur masyarakat kepada Yang Maha Kuasa atas keberhasilan panen yang diperoleh pada tahun sebelumnya.Dengan menggelar ritual,diharapkan keberhasilan yang sama kembali akan terulang pada tahun berikutnya.

Ritual ini dimulai dengan dilakukannya pembersihan sumur yang diberi nama Gonrange yang berarti “banyak air”. Ritual pembersihan sumur juga dimaksudkan sebagai awal memulai hidup baru untuk rencana satu tahun ke depan.Salah satu makna filosofis lain,yakni sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan agar pola hidup masyarakatnya sama dengan air,yakni mencari tempat yang rendah (rendah hati) dan dibutuhkan semua orang.

Ritual warga ini sudah berjalan selama ratusan tahun dan dilanjutkan dari generasi ke generasi.Masuknya peradaban modern dalam bentuk teknologi,termasuk di bidang pertanian,tidak lantas membuat warga meninggalkan kebiasaan ini.Warga tetap percaya bahwa dengan menggelar ritual itu akan memberikan manfaat,terutama bagi keberhasilan panen.

Sebagian besar warga yang mendiami Kelurahan Pammana ini merupakan petani. Kabag Humas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wajo Hasri AS mengatakan,Sumur Gonrange pada zaman dahulu dijadikan sebagai sumber air minum utama bagi masyarakat di sekitarnya. Berselang ratusan tahun kemudian, sumur ini tetap dipertahankan warga.“Sumur ini sudah ada sejak abad ke-15 dan masih terpelihara dengan baik hingga saat ini,”ujar dia.

0 komentar: